04 December 2011

Opini : Tulisan “pintar”..



Menulis adalah sebuah kegiatan melukiskan kata-kata diatas kertas. Menulis dipandang sebagai sebuah langkah yang sangat efektif untuk menuangkan pemikiran-pemikiran yang ada. Dengan menulis,kita bahkan dapat memindahkan isi dunia kedalam selembar kertas. Maka tidaklah heran ketika mereka yang telah menghasilkan sebuah tulisan yang “sukses” akhirnya dapat pula “sukses” di masyarakat dan tentu saja mendapatkan “pandangan”.
            Tidak ada yang sulit dalam memulai sebuah tulisan. Tetaplah fokus dengan apa yang ingin kita ceritakan. Tulislah apa yang ada dikepala,tuangkan semuanya dalam goresan tinta. Tidak penting apakah tulisan itu akan diterima oleh dunia,yang penting adalah bahwa kita telah berani menginjakkan satu langkah dan tinggal menapaki langkah selanjutnya. Tidak ada ilmu khusus mengenai bagaimana menulis yang baik,semuanya hanya permainan waktu. Seberapa lama kita bergelut dengan dunia tulis-menulis,seberapa banyak tulisan yang kita buat,maka dengan sendirinya ilmu tersebut akan terproses dalam diri kita.
            Salah satu kendala ketika akan memulai sebuah tulisan adalah pembendaharaan kata. Seorang penulis tentu saja dituntut untuk memiliki pembendaharaan kata yang baik. Tapi justru disinilah masalahnya,kita akan selalu merasa dituntut oleh diri sendiri untuk membuat sebuah tulisan yang terlihat “pintar” dengan cara menggunakan bahasa-bahasa yang terlihat “pintar”. Padahal salah satu kriteria tulisan yang baik adalah tulisan yang ketika dibaca,maka pembaca akan langsung mengerti dengan apa yang dimaksud oleh si penulis.
Jembatan antara pembaca dan penulis adalah kesederhanaan sebuah tulisan. Fenomenanya,penulis kita terkesan “takut” tidak menggunakan istilah-istilah asing dalam tulisannya. Tentu saja hal ini dimaksudkan agar si penulis terlihat “pintar” lewat tulisan “pintar” yang diramunya sendiri.
Tidak ada yang salah dengan tulisan yang terlihat “pintar”. Tapi faktanya,tulisan-tulisan “pintar” justru jarang terjamah kecuali untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Sebaliknya,tulisan yang sederhana akan sangat mudah dicerna tanpa perlu mengernyitkan kening terlebih dahulu. Pilih mana,renovasi atau perbaikan? Tentu saja pembaca akan memilih kata-kata yang lebih sederhana. Sungguh,jangan sampai penulis kita takut untuk tidak menggunakan bahasa asing agar terlihat “pintar”!!

Miftahul Khaeriyah

0 cuap-cuap:

Post a Comment