Malam di Kota Daeng,
bersenandung lirih tentang pak tua yang kukunya
menghitam karena mengais debu jalanan,
Terbaring melengkung di emperan toko yang catnya
memudar termakan masa,
tersenyum dalam sisa-sisa sadarnya.
Tuhan,esok hari,jatuhkan setetes rejeki diladang
pencaharianku.
Malam di Kota daeng,
mencumbu lembut tubuh indah yang terpojok dalam remangnya cahaya lampu jalan,
senyum tersungging berkawan wajah yang tertutup bedak murahan,
Menunggu kantong-kantong tebal menjajakan kenikmatan.
Tuhan,bukan inginku menantang tangguh-MU, bergetar kutatap mulut mengering
anakku yang menganga meminta seonggok nasi..
Malam di Kota daeng
Bergumul bersama 4 orang bocah yang duduk bersila beralaskan karton mie instan
menikmati sebatang rokok dari bibir ke bibir
tertawa terbahak bersama angin malam
Tuhan,bahagiaku bukanlah tentang membawa sekantong uang dan mencicipinya
Bergumul bersama 4 orang bocah yang duduk bersila beralaskan karton mie instan
menikmati sebatang rokok dari bibir ke bibir
tertawa terbahak bersama angin malam
Tuhan,bahagiaku bukanlah tentang membawa sekantong uang dan mencicipinya
Bahagiaku adalah menikmati malam-MU
Dan malam di Kota daeng
tetaplah mempesona dalam ketidakwarnaannya
membawa desir bisikan dari segala arah
adakah Kau sedang terlelap,Tuhan?
Dan malam di Kota daeng
tetaplah mempesona dalam ketidakwarnaannya
membawa desir bisikan dari segala arah
adakah Kau sedang terlelap,Tuhan?
Bersama nafas malam,9 September 2012



0 cuap-cuap:
Post a Comment