31 May 2014

dari Puncak Bawakaraeng

Okeh,sebagai awal,ku lantunkan satu kalimat petikan dari seseorang yang menurutku begitu mempesona.. “Bahwa sejatinya,kita adalah murid kehidupan yang tak akan pernah lulus”..

Pernahkah kau menatap suatu tempat dari kejauhan dan membatin “aku akan kesana suatu hari nanti” ? dan hari ini, pernyataan yang kuucapkan akhirnya terwujud. Kujejalkan kaki  menyusuri jalur menuju puncak Bawakaraeng. Salah satu tempat yang ingin “kucumbui” beberapa tahun lalu. Aku menatap Puncak dari Lembah Ramma selama 7 kali,2 tahun lamanya.Menunggu,membatin,berharap dan akhirnya kurasakan “merinding”  berada jauh di atas jutaan warga Sulawesi!!!

Perdana menuju puncak,aku ditemani 3 orang lelaki tangguh. Is (orang yang mengenalkan ku pada alam sekaligus orang yang harus ada dimanapun aku mendaki), Wasit (kakak yang ditinjau dari umur tapi sayang posisinya sebagai junior di kampus,begitu rajin melakukan segala sesuatunya,junior kesayangan),dan Iqbal (sayangnya pendaki Pertama,pekerjaan : tidur)

Kami berangkat dari rumah Tata (panggilan Bapak) Rabbani sekitar pukul 06.30 maghrib. Bermodal 2 headlamp dan 2 senter korek api,-penerangan yang cukup menurut kami- dengan target POS 5. Tak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan kami. Gelap,nafas-nafas memburu, bunyi-bunyian khas hutan,dingin,keringat, dan kisah menyeramkan yang diceritakan beberapa teman. Aku tak tahu dengan 3 orang lainnya,yang pasti aku lumayan terbebani oleh beberapa kisah mistis tentang POS 3 yang katanya agak “sensitif” dengan warna merah (sepatu Lapangan ku,berwarna merah pudar). Entah ini berhubungan atau tidak,menuju POS 4,sepatu ku “kalah”, ia terbagi 3.Robek.

Kami tiba di POS 5 sekitar pukul 10 malam. 3 pasukan ku mendirikan tenda dan aku duduk bagai seorang ratu. Wasith dan Iqbal –yang memang adalah junior- bertugas mengambil air di sungai, setengah kilo jauhnya. Aku? Tidur!

Pukul 10.00 pagi,usai Packing dan sarapan.Kami melanjutkan perjalanan dengan beberapa teman baru. Mereka Warga sekitar yang sering melakukan aktifitas seperti ini. Baru setengah kilo,kami sudah kehilangan mereka,terlalu cepat!. Aku ngos-ngosan menapaki POS 5 menuju 6. Sepanjang penglihatan,yang terpampang hanya batu berukuran sangat besar berwarna putih. Jalur? Tidak main-main, memaksa kami mencuim lutut tiap kali melangkah.. Aku masih belum goyah!

Aku tumbang di POS 6 menuju 7. Is memutuskan tandom dengan daypack ku. Aku membawa diri sendiri. Okeh,aku butuh pahlawan,dan orang yang tepat adalah IS! Tiba di POS 7,letih ku hilang! Aku tak ingin terlihat manja oleh beberapa pendaki lainnya,ditambah,pemandangan terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan mengeluh. Tuhan,aku merasa engkau semakin dekat! Mari duduk disampingku dan kuceritakan beberapa masalah yang membuatku datang begitu jauh menemui-Mu!



POS 7 hingga puncak,kubawa Daypack ku sendiri meski dengan tenaga yang hampir habis. Hanya aku yang merasakan atau juga semua orang,bahwa jalur yang belum dikenal akan terasa begitu berat dan jauh dibanding jalur yang telah dilalui sebelumnya,mungkin begitu juga dengan cinta.. hahah yaelah..
Tiba di puncak,pukul 05.00 sore. Aku sempat mendapati matahari malu-malu.. Ah,begitu tenang,begitu damai. Tak ada keributan kota dan segala sesuatu yang memuakkan. Sulit menggambarkannya dengan sesuatu. Disini,di Pucak ini,kau bisa memetik kedamaian disetiap ranting pohon tanpa takut merusak pohonnya! Bersama teman-teman,bersama terkasih,bersama orang-orang yang penting dalam hidup mu. Jujur saja,aku begitu menanti saat dimana Abang dan adikku akan berkata “bawalah aku mencicipi damai yang sering kau bicarakan itu!!” aku ingin mereka juga merasakan hebatnya bumi Tuhan  dari sisi yang berbeda..

 Semua yang mendirikan tenda adalah saudara meskipun kami tak pernah berbicara satu sama lain sebelumnya. Sangat berbeda dengan kehidupan kota yang penuh keangkuhan dan lampu terang bederang warna warni dimana-mana..
Pulangnya,lagi-lagi tak banyak yang bisa kucerita. Aku selalu menang di jalur yang menurun,dan stamina ku terjaga dengan baik,sangat baik malah.. Ku tinggal beberapa orang dibelakang termasuk Is,Ia betugas mengawal seorang teman yang mengalam Trouble di lutut kanan,Ia jauh tertinggal dibelakang. Tapi,satu momen sederhana mengetuk ku, bahwasanya tak perlu pengakuan dari bibir seseorang untuk membuatmu yakin kalau ia menganggap mu penting. Malam yang semakin dingin, disaat aku bergetar karena tak kuat lagi menahan angin menubrukku,Is datang sambil berlari kencang,ngos-ngosan. Ia berlari dari POS 7 hingga POS 5,menenteng raincoat ku yang ternyata berada di career. Ia membuatku merasa penting. Makasih Is..
Mungkin hanya diriku atau memang juga orang lain,tiap kali mendaki,aku selalu membatin tak akan kembali untuk kedua kalinya,sayangnya kalimat ini seperti mantra terbalik yang dikatakan oleh alam,“kau akan kembali secepatnya!” dan kalimat yang baru saja ku ketik,selalu benar! Aku ingin kembali! secepatnya! Menyapa Alam!
dan diatas sana,diantara angin yang menderu,diantara dingin yang menusuk tulang,mustahil kita tidak bicara tentang TUHAN!

0 cuap-cuap:

Post a Comment