31 May 2014

Malasss..


Ibu ku seperti batu. Entah terbuat dari apa hatinya.
Bapak memutuskan menikah lagi,meskipun belum ia wujudkan. Sudah hampir 3 bulan semenjak pengakuan bapak,sudah hampir setahun yang kutahu ia menjalin hubungan dengan wanita terkutuk itu. Aku tak pernah menyukai mereka,Ibu,Bapak,dan wanita yang setiap malam ia telepon hingga berjam-jam.


Keluarga geram,dari pihak Ibu,terlebih dari pihak Bapak. Tak ada yang setuju,dengan satu alasan,Ibu terlalu baik kepada Bapak selama ini. Kuakui,jika suami ku seperti Bapak,aku akan menceraikannya di umur 5 bulan pernikahan kita,mungkin,(dan kuharap suami ku tidak seperti dia). Bapak tak tau bagaimana berbicara tanpa menarik urat leher kepada Ibu (setidaknya itu yang kulihat).
Dalam kasus apapun,jika Bapak jengkel,dimatanya hanya satu  penyebabnya,IBU. Bapak tak pernah mandiri,semua harus diatur dan disediakan oleh Ibu,bahkan sendok makan yang berjarak  hanya 30 cm dari sikunya. Jika Bapak meneriakkan nama ibu dari dapur,ibu akan tergopoh-gopoh sambil berlari dari teras depan,seperti menanti titah seorang raja.Dan ibu ku? ia menyimpan cinta yang dalam kepada Bapak. Memuakkan.


Aku menghadapi pemandangan yang  menjemukkan itu setiap hari. Aku tak merasa berdosa mengumbar kejelekan Bapak,semua orang sudah tau. Bapak tak pernah merasa bersalah didepan orang banyak. Menjijikkan.
Jika bukan kerna kasihan,aku tak ingin campur tangan dengan urusan orang tua yang tak pernah dewasa ini. Aku iba melihat ibu,kami sama-sama wanita. Hanya itu. Toh Ibu terlihat tak pernah terbebani. Ia masih sama seperti dulu,jadi objek bentakan. Api cintanya masih membara kepada Bapak. Ibu bertahan karena takut sama Bapak? Kuberitahu padamu,terkadang  Cinta bekerja dengan cara  sangat ajaib! Aku pernah melakukan hal yang sama,bertahan saat cinta menaruh perhatian pada wanita lain,dan kuberitahu lagi padamu,AKU MENYESAL BERTAHAN! HINGGA DETIK INI! Aku tak ingin Ibu mengalami kutukan yang sama,Penyesalan!


Tiap kali ditanya tentang ikhlas,ibu dengan mantap menjawab “aku ikhlas!”. Masih teringat kasus ustadz besar yang poligami dengan alasan yang sama,istri pertamanya ikhlas. Tak terhitung tahun,istri pertama yang tadinya ikhlas minta diceraikan! Istri ustads besar,yang juga ustadzah besar! Bagaimana dengan ibu??


Bapak sementara mengurus perpindahannya ke sekolah lain,masih sebagai Kepala Sekolah. Agar dapat poligami tanpa harus terkena Undang-Undang. Aku tak tahu UU apa yang dimaksud, pastinya,Bapak yang berstatus sebagai Kepala Sekolah di sebuah SD Negeri,tak boleh menikahi Bendaharanya sendiri! Jalan satu-satunya ia atau Bendahara yang akan dinikahinya tersebut harus pindah ke sekolah lain!


Dan ibu,ia dengan sabar menunggu proses perpindahan Bapak. Bahkan pernah kudapati Ibu menyarankan bapak untuk menikah Siri. Sial. Aku geram pada keadaan,aku geram pada ibu yang terlalu baik,aku geram pada Bapak yang di usia tuanya masih saja memikirkaN DUNIA,AKU GERAM PADA Bendahara Bapak yang selalu menggoda dan tak tahu diri,Aku geram pada keluarga yang selalu menbuat Ibu sedih,aku geram pada IS yang tak pernah mau mendengar cerita ku,aku geram pada teman Bapak yang diam saja melihat keadaan kikuk ini,aku geram pada Tuhan, aku geram pada diriku sendiri yang tak tau harus berbuat apa. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah!



0 cuap-cuap:

Post a Comment